Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Saturday, March 22, 2014

Good Bye My Love

"Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan cintamu,beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku dan mencintai". kata dalam whatapps yg kebetulan no WA ku yg itu aku ganti nomer Indonesia dan sekarang aku pakai lagi no itu.Aku hanya mampu tersenyum membaca semua itu,bagiku sekali ingkar akan menjadi kebiasaan.Dan aku paling benci dengan yang ingkar janji.

  Sebut saja dia Roni,dia adalah mantanku,aku ,dan aku seorang gadis yang bernama Dina.
Roni adalah seorang laki-laki yang telah berhasil merebut hatiku.Walau dalam hati masih tersimpan keraguan,karena seringnya aku disakiti,membuat aku gampang tidak percaya sama laki-laki. Tapi Roni mampu menghapuskan keraguanku itu.

    Dia sangat perhatian diawal pacaran ,mungkin karena masih baru ya,dan itu memang terbukti.Setelah berjalan satu tahun semuanya berubah,ulang tahunku saja sudah tidak ingat,aku ngomong sedikit masalah agama di bilang ceramah,padahal cuma kasih tahu kalau ada waktu luang itu gunakan untuk ke pengajian.Malah aku di bilang nyeramahin.Jengkel juga lama-lama hati ini,dan akhirnya aku diam dan tdk mau lagi berhbungan dgn dia,menghilang begitu saja. No whatapps au ganti,no dia aku blokir dll.

   Yang jelas aku bosan dan ingin sendiri,yang paling bikin aku ingin sekali pergi darinya adalah dia tidak menepati janji,janji mau datang kerumah melamar,tapi hingga batas waktu yg ditentukanpun tidak datang,itu semua hanya menambah kesal dihatiku.Alasan apapun juga tidak keluar dari mulut dia.Semua itu membuat aku ingin pergi darinya.

      Aku paling tidak suka orang ingkar janji,kalapun hari itu tidak bisa setidaknya ada alasan ,ini diam tanpa kabar apapun,akupun bisa seperti itu,bahkan menghilang selamanya dari kehidupan dia,cukup lama aku mengganti no WAku,dan kini kukembalikan lagi,disitu ada pesan dari Roni.
" Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan cintamu,beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku dan mencintaimu".,,,aku tidak akan pernah membalas pesan dari Roni,saat itu juga aku block no dia.Maafkan aku Roni,aku tidak bisa bersamamu lagi,karena kamu telah menghancurkan semua impianku  04-4-2014 .

Monday, June 17, 2013

Merias Impian


Merias Impian
oleh Wanthy Onet 

Impian. Semua orang pasti punya impian dan semua pasti ingin impian itu tercapai.Walau untuk mencapai impian itu penuh jalan berliku dan tidak mulus. Dan banyak juga yang sering mengalami kegagalan. Namun kita tidak boleh menyerah begitu saja demi untuk mencapai cita-cita itu. Dan demi cita-citaku aku merelakan diri untuk pergi merantau ke luar negeri, Hongkong.


Pantaslah banyak orang menyebutnya negri beton. Gedung-gedung tinggi yang seperti tumpukan beton itu berjejer-jejer di mana-mana. Di tempat yang rata-rata bangunannya berebut mencakar langit ini aku sendiri, tak ada teman. Eh, hanya satu teman dari PT dulu, namanya Rita. Tiap hari Minggu saat libur aku gunakan untuk berkumpul dengannya dan kita selalu membicarakan tentang cita-cita kita kelak bila sudah mempunyai tabungan.


“Wan, kamu mau berapa tahun kerja di Hong Kong?” Rita bertanya dan itu membuatku berhenti sejenak mengunyah makananku. Meski bukan pertanyaan baru, namun pertanyaan yang itu-itu saja itu selalu berhasil membuatku gugup menjawab.

“Aku belum tahu Rit, karena aku mempunyai cita-cita buka salon dan rias. Tapi masalah keluarga masih membelitku yang mengharuskan aku mengirim uang ke rumah. Lhah trus kapan aku punya cukup uang buat modal ya?” jawabku sambil meletakkan makan, sudah tak bernafsu lagi.

“Bagus itu Wan. Kamukan emang ada bakat dalam bidang berdandan. Lihat aja cara dandan kamu tiap Minggu, pasti beda.” sela Tina temanku dari Jember yang aku kenal sewaktu di Hong Kong.

“Iya Wan, aku yakin kamu pasti bisa,” Rita pun tak mau kalah memberi semangat
Semangat yang aku dapat dari teman-temanku itu cukup mampu mendorongku untuk mencapai cita-citaku. Ya setidaknya mendorongku untuk fokus. Fokus untuk pulang dan menjadi tukang rias. 
Aku mulai mencari info tempat kursus pengantin. Waktu itu aku akhirnya mendapatkan info yang aku inginkan. Tanpa membuang waktu aku pun mendaftarkan diri. Ternyata aku tidak perlu repot-repot untuk membeli alat-alatnya, karena sudah disediakan. 


Hari pertama masuk sangat susah bagiku karena aku harus menggambar wajah, sedang menggambar adalah hal yang paling sulit aku lakukan.

“Ndhuk iki kertase, nggambar muka dhisik, mengko terus paesanne,” perintah Ibu Anjari guru meriasku sambil senyum-senyum.karena dia tahu aku tidak bisa menggambar. Aku cemberut.

“Wis, aja mrengut ta, dijajal dhisik. Gambar seng simple wae,” bu Anjari terus memberiku semangat.
Akhirnya aku pun menggambar walaupun ya hanya ala kadarnya. Kepala yang seharusnya lonjong itu menjadi kotak atau ah entah bentuk apa aku tak tahu. "Yang penting khan ukuran paesnya," pikirku. 
Menggambar paes itu ternyata lebih sulit lagi karena ada ukurannya. Tidak sembarang gambar saja. Dengan susah payah aku mencobanya, mengulangi lagi dan lagi. Ucapan-ucapan Rita dan Tina mendengung-dengung dan membangkitkan semangatku. 

Seminggu pun sudah berlalu dan aku siap untuk belajar lagi. Kali ini aku di haruskan membawa model yang akan aku make up. Tidak sulit bagiku untuk mencari teman yang mau aku jadikan model. Aku tinggal minta ama temanku dan beres aku mendapatkan model. 

Hasil riasanku yang pertama masih rata-rata. Akan tetapi hasil riasaanku yang kedua kalinya dapat pujian dari Ibu Anjari
“Kok kowe cepet isa Ndhuk? Make upmu wis apik ngono kok,” kata wanita yang asal Solo ini. Aku tersenyum senang mendengar pujian itu.
“Ah, apa iya Bu?” kataku.
“Wis, gini Minggu depan enggak usah belajar. Kamu mbantu ibu aja ya. Gelem ta?” pinta bu Anjari.
“Oh baiklah Bu,” jawabku dengan senyum gembira.
Dan minggu selanjutnya aku ikut membantu mengajari teman-teman yang baru belajar dasar. Dan sambil membantu bu Anjari, aku juga memperdalam ilmu pada beliau. Tapi sayang, semua tidak berlangsung lama, kerana pada kontrak baruku aku jarang libur sehingga posisiku posisiku diserahkan kepada orang lain. Padahal aku merasa ilmuku belum seberapa.

Cukup lama aku berhenti menuntut ilmu merias hingga akhirnya aku mulai mencoba cari info lagi. Setelah aku mendapatkan libur tiap minggu lagi, untuk kali ini aku ikut kursus potong rambut juga. Selain potong ada juga keriting, meluruskan dan modifikasi sanggul.Yah disini aku banyak belajar yang tentunya sangat bermanfaat untukku kelak bila sudah pulang kampung. 

Ternyata di kampung sudah banyak yang mendengar aku ini ambil kursus merias. Itu tak lepas dari obrolan emak dengan tetangga atau saat pengajian atau arisan se-RT atau se-RW dan itu tentunya menguntungkanku.

Setelah kursus selesai, aku terus berlatih melemaskan jariku untuk merias teman-temanku. Lama-kelamaan, karena sering praktek dan dari hasil praktek yang memuaskan namaku banyak dikenal orang. Pur Rias, begitu mereka menyebutku. Hampir tiap dua Minggu sekali ada saja yang meminta tolong aku untuk meriasnya, kali ini aku mendapat upah. Aku sih tidak memasang tarif, asal pelanggan puas seberapapun upah yang diberikan aku terima dengan ikhlas. Lumayanlah bisa buat beli pulsa.
Tak terasa sudah enam tahun aku bekerja di Hong Kong. Ada sejumlah uang terkumpul di tabunganku. Aku memutuskan untuk pulang kampung. Bukan untuk cuti tapi pulang yang benar-benar pulang. Pulang untuk berjuang di negri sendiri, pulang untuk tinggal serumah dengan emak dan mungkin juga pulang untuk menikah. Yang terakhir itu tentu saja kalau sudah sampai jodohku.

Aku pamit kepada dua kawanku yang selalu menyemangatiku itu. Kedua kawanku itu menangis tergugu namun tersenyum bahagia mendengar keputusan dan keseriusanku pada impianku, menjadi tukang rias. Dengan pelukan terakhir dan lambaian terakhir kumantabkan hatiku. "Bismillah ya Allah, mudahkanlah jalanku," doaku di sepanjang penerbanagnku.

Perjalanan naik pesawat dari Hongkong ke Indonesia tidaklah lama, cuma butuh empat jam lebih. Dan aku sampailah ke negeriku tercinta Indonesia. Satu bulan, dua bulan aku masih belum mendapatkan pekerjaan. Meski emak juga sudah membantu promosi ke sana ke sini namun kepercayaan dari orang-orang desa belum juga aku dapatkan. Mungkin karena aku masih muda, atau mungkin juga karena mereka belum pernah melihatku merias orang jadi mereka belum bisa mempercayaiku.

Aku coba mendatangi tetangga desa yang kebetulan dia perias nganten. Aku datang untuk menawarkan jasa.'
“Mbak, boleh nggak saya ikut membantu merias?” tanyaku padanya.
"Tapi anu dik, saya sudah punya satu pembantu rias. Trus nek tambah satu lagi nanti gimana ya, takutnya nggak bisa mbayari," jawab mbak Sartini.

Wanita yang menjadi perias turunan, karena ibunya adalah perias juga dulunya ini serba sungkan untuk menerima atau menolak permohonanku.
"Anu Mbak, saya enggak dibayar juga enggak apa-apa. Niat saya mau belajar Mbak," jawabku.
“Oh nggih Mbak, nanti kalau ada job njenengan saya ajak. Tapi njenengan bisa merias beneran khan?" tanya mbak Sartini ragu.

Ya aku memakluminya karena aku masih baru kali ini mau merias di kampung. Walau saat di Hong Kong aku sering merias kawan-kawan juga pernah belajar merias manten toh mbak Sartini enggak melihatnya, jadi tak heran kalau dia meragukan kemampuanku.
Mungkin ini rejekiku atau apa, pembantu rias mbak Sartini memutuskan untuk berhenti menjadi pembantu riasnya. Suaminya yang katanya naik pangkat itu tidak mengijinkan dia keluyuran katanya. 
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Aku pun mulai sering diajak merias mbak Sartini. Awalnya hanya merias pengapit manten atau among tamu. akhirnya juga aku membantu merias putri domas. Namun tak sekalipun dia mengijinkanku untuk merias pengantinnya. Pamali katanya, entah benar atau tidak. Mungkin juga dia takut saingan karena hasil riasanku sering dipuji banyak orang.

Dan dari situ aku gunakan kesempatan untuk mengenal orang-orang yang bekerja dibidang lain yang berhubungan dengan pernikahan. Mulai dari tukang dekor, juru photo, penyanyi hiburan, pranatacara juga cucuk lampah. Aku mengenal mereka akrab. Dari mereka aku mencoba menawarkan diri untuk kerja sama denganku dan mereka menolak. Ya, tentu karena aku belum punya nama, aku bukan perias manten.

Ah, sulitnya untuk mendapatkan kepercayaan itu. Tapi aku tidak patah arang, aku tak mau balik lagi ke Hong Kong, aku tak mau gagal. Aku tetap mencoba.
Setelah satu tahun lamanya aku ikut merias mbak Sartini tanpa imbalan sedikitpun, sudah banyak kenalan dan ilmu yang kudapat dan orang-orang mulai mempercayai kemampuanku, kini saatnya aku berdiri sendiri. Kugunakan separuh tabunganku untuk membeli baju-baju pengantin, aksesoris dan pernak-pernik lainnya. Sewaktu di Hong Kong aku juga sempat membeli beberapa gaun pengantin yang tentunya berbeda dengan gaun pengantin yang ada di desaku. Setelah aku rasa aku siap, aku hubungi tukang dekor, tukang foto dan sebagainya, meminta kesiapan dan kesanggupan mereka untuk menjadi tim suksesku menjadi tukang rias. Kali ini, mungkin karena seringnya bertemu denganku dan karena telah melihat kemampuan dan kesiapanku mereka pun mengiyakan.

Meski sudah mendapat kesanggupan dari berbagai pihak dan meski brosur promosi juga sudah aku sebar namun aku hanya mendapat job kecil-kecilan seperti merias anak-anak di hari Kartini, merias anak pemain drumband, merias lulusan kuliah. Hingga empat bulan belum juga ada satu pun orang yang menggunakan jasaku untuk merias manten. Padahal aku sudah sangat siap.

Untuk mengisi kekosongan, aku mencoba membuat ketrampilan yaitu membuat mahar dari uang dari mukena, jarik dan sebagainya. Aku bikin sendiri dan aku pajang di ruang tamu biar orang pada melihatnya bila datang kerumahk. Selain itu aku mencoba membuat bunga dari sabun dan membuat tas, sabuk, gelang dari tali kur. Untuk sabuk dan gelang ini ternyata banyak disukai oleh anak-anak remaja, sehingga sedikit demi sedikit aku ada pemasukan.
Pada suatu hari hari ada salah satu saudaraku yang mau menikah, aku mencoba menawarkan diri untuk meriasnya secara percuma alias gratis. Sekalian aku membantu sekaligus aku promosi kepada tetangga. Saudara jauhku ini ternyata tak keberatan.


Tiba hari yang sudah di tentukan aku pagi sekali sudah mempersiapkan semua alat make up dan semua peralatan serta baju pengantinnya. Aku juga sudah mengontak semua tukang poto tukang dekor dan sebagainya dan aku pun mulai merias dengan telaten. Satu persatu wajah sudah aku rias dan tiap kali aku selesai merias, satu persatu pujian terdengar. Aku senang. 

“Mbak nanti kalau anakku nikah kamu aja yang ngrias ya," kata seorang ibu-ibu yang melihatku merias mantennya. Aku tersenyum mengiyakan. 
Dari keberhasilan hari itu namaku dikenal banyak orang, kini orang memanggilku Pur Rias, sama seperti panggilan kala aku di Hong Kong. 
Dua buah sms aku kirimkan kepada kawanku tercinta. Sms bahagiaku.

"Bhangyau, aku berhasil! Aku benar-benar jadi tukang rias. Kalau kalian nikah nanti panggil Pur Rias aja ya, diskon 50%, hehehe." 

****

Friday, January 18, 2013

Saat Pemalas Bertemu Setan


Saat Pemalas Bertemu Setan
oleh Wanthy

Si kecil Nora tidak mau bangun dari tidurnya. Dia masih ingin bersembunyi di balik selimut yang dia sukai, selimut mickey mouse. Dia ingin melanjutkan mimpinya biar nanti dia sudah tumbuh besar mau jadi apa.dia tidak mau memikirkan apa yang harus di lakukan sekarang,seperti membantu ibunya,walaupun nora yang mencintai ibunya,
“Bangun hai pemalas!” kata mamanya sambil mencoba membangunkan Nora entah yang keberapa kalinya.
"Sarapan sudah dingin di meja, tuan putri” kata mamanya.
Akan tetapi si kecil Nora tetap tidak mau bangun dari tempat tidurnya. Walaupun Nora tahu apa yang telah disediakan buat sarapan paginya, pancake dengan sirup gula pandan kesukaannya! Tapi untuk hari ini Nora ingin tidur seharian. Bergegas dia kembali bersembunyi di dalam selimut wool tebalnya yang bergambar Hello Kitty. Namun, rupanya mama mempunyai rencana lain. Mama diam-diam memanggil kawan dekat Nora untuk membangunkan Nora. Mereka masuk kamar Nora satu persatu.
 “Hai bangun kamu pemalas!” teriak Amel.
“Aku sudah lari pagi memutari taman. Ini sangat mengasyikan.Di sana banyak burung-burung yang berkicau dan udaranya segar sekali. Ayolah bangun hai pemalas," bujuk Amel.
Nora akhirnya bangun dan duduk di tempat tidur.
“Wow sungguh menarik” jawab Nora dengan malas.
“Ibuku bilang, kalau aku sering lari pagi, aku akan menjadi kuat dan sehat,” kata Amel
“Apakah kamu mau lari bersamaku Nora?” tanya amel.
“Oh, tidak untuk hari ini Amel,” jawab Nora.
“Ih dasar pemalas lo ya. Ya udah. Kalau bagitu aku akan lari pagi lagi. Daaa Nora!” pamit Amel sambil berlalu.
Kini saatnya untk kembali melanjutkan mimpiku yang sudah terganggu, guman Nora dalam hati. Tapi tak lama kemudian temannya yang satunya lagi datang untuk menganggu tidur Nora
“Hai pemalas, bangun kamu!” teriak Niken
“Ini sudah siang, bukan waktunya untuk bermalasan Nora!” kata Niken.
“Hoahem...,” Nora menguap lebar-lebar.
“Ayo kita bermain sepeda!” ajak Niken
“Hem... tidak untuk hari ini, Niken,” jawab Nora.
“Aku masih ingin tidur dan bermimpi bila aku besar nanti mau jadi apa,” jawab Nora sambil membetulkan selimutnya
“Kalau kamu besar nanti kamu tidak akan jadi apa-apa karena kamu pemalas. Huh! Okelah pemalas, kalau begitu aku akan sepedahan aja sendiri,” kata Niken sambil berlalu.
Kini saatnya aku kembali tidur dan bermimpi, pikir Nora.
Sudah lima menit, Nora belum juga bisa melanjutkan tidurnya yang tertunda padahal sudah tidak ada lagi yang membangunkannya. Dia sudah mencoba miring ke kanan dan ke kiri, tapi belum bisa tidur juga. Lalu Nora menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Alangkah kagetnya Nora saat dia melihat sesuatu di dalam selimutnya!
 “Hei siapa kamu?” Nora bertanya.
“Aku datang untuk menemanimu tidur, pemalas.”
“Aku tidak mau ditemani. Pergi kamu!” teriak Nora.
“Kenapa tidak mau? Aku paling suka dengan anak malas sepertimu Nora,” kata mahkluk itu.
“Pergi! Aku tidak mau!” bentak Nora yang mulai ketakutan
“Aku tidak akan pergi, aku mau menemani kamu tidur, Nora,” katanya.
Nora ketakutan, amat takut. Makhluk itu entah apa namanya. Mahkluk itu sungguh menyeramkan. Giginya bertaring, matanya melolot dan mukanya yang sungguh menakutkan. Nora gemetaran, takut.
“Aku mau tidur lagi, aku mau melanjutkan mimpiku. Kamu pergi! Aku enggak butuh kawan!" bentak Nora memberanikan diri.
"Makanya aku temani lamu, Nora," kata makhluk itu mendekat. Semakin dekat.
Nora panik.
"Tidaakkk...! Pergii...! Aku enggak mau tidur. Aku bangun saja! Aku mau maiinnn...!" teriak Nora kemudian melempar selimutnya ke lantai.
Ajaib! Makhluk itu lenyap.
Rupanya Nora bermimpi. Mimpi yang berhasil membangunkannya.
Nora berlari dari kamarnya menuju dapur.
 “Ibu. Aku mau sarapan,” kata Nora.
“Eh? Bangun beneran nih? Katanya mau tidur lagi," ledek ibu.
“Enggak ah bu. Udah siang kalo tidur lagi bikin mimpi ketemu makhluk serem," jawab Nora sambil bergidik.
"Ya iyalah. Temen-temen yang lain aja udah pada mandi, main, eh kamu malah malas-malasan. Malas tuh kerjaannya setan. Nah tuh setannya masuk deh ke mimpimu," kata ibu sambil tersenyum.
"Mandi dulu biar seger trus sarapan," perintah ibu.
Nora beranjak, melakukan perintah ibunya. Sejak saat itu Nora rajin bangun pagi.

Tuesday, January 15, 2013

NELLY TIDAK MAU SEKOLAH


NELLY TIDAK MAU SEKOLAH
oleh Wanthy

Hari ini hari pertama Nelly masuk sekolah. Dia masuk kelas TK nol kecil.
“Nelly,ayo cepat dimakan sarapannya!” kata ibunya
“Setelah itu Nelly harus berangkat sekolah,” lanjut ibu.
“Kenapa Nelly harus sekolah bu?” tanya Nelly.
“Nelly tidak mau sekolah,nelly mau main dirumah aja," kata Nelly merajuk.
“Nelly mau jadi anak pintar tidak?” tanya sang  ibu
“Dan Nelly kalau besar mau jadi apa, hayoo?” tanya ibu lagi.
“Nelly mau pintar, biar kalau sudah besar jadi pramugari,” jawab Nelly sungguh-sungguh.
“Nanti kalau Nelly jadi pramugari, biar bisa jalan-jalan  naik pesawat bu.” lanjut Nelly
“Nah, kalau Nelly ingin jadi pramugari, Nelly harus sekolah dan giat belajar," nasehat ibu.
Nelly terdiam dan Nelly tetap tidak mau berangkat sekolah. Nelly lari ke kamar dan asyik melanjutkan bermain dengan bonekanya.
"Lho kok malah ngumpet di kamar," kata ibu.
"Nelly ingin bermain terus dengan boneka. Nelly takut sekolah karena Nelly enggak kenal semua orang disekolahan. Nelly takut nanti temen di sekolahan ada yang nakal, jahilin Nelly," jawab Nelly.
Mama menghela nafas. Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Rupanya, temen yang biasanya bermain dengan Nelly datang untuk mengajak berangkat sekolah bersama-sama.
“Nelly...!”panggil Joan.
“Ayo kita berangkat sekolah, nanti terlambat,” ajak Joan.
“Aku tidak mau. Aku mau main di rumah saja,” jawab Nelly.
“Khan nanti di sekolahan kita bisa bermain bersama,” kata Joan.
“Aku tetep tidak mau Joan,” jawab Nelly sambil cemberut.
“Ya sudah, aku berangkat sendiri. Daaa Nelly.” Joanpun berlalu.
Kini saatnya aku bermain lagi, guman Nelly dalam hati. Tapi belum lama Nelly bermain, ada satu temennya datang lagi untuk mengajak berangkat sekolah bersama.
“Nelly, ayo kita berangkat sekolah bersama,” ajak si Nita.
“Aku mau di rumah saja,”jawab Nelly
“Kenapa kamu tidak sekolah? Di sekolahan banyak mainannya lho,” kata Nita.
“Aku mau main di rumah saja. Di rumah juga banyak mainan kok,” kata Nelly membela diri.
“Kata mamaku, di sekolah kita bisa belajar dan bermain, Nelly,” kata Nita.
“Kata mama juga, kita nanti bisa punya banyak teman,” lanjut Nita.
“Iya Nelly. Kalau kamu tidak mau sekolah, dari mana kamu bisa pintar dan bisa jadi pramugari? Jadi pramugari khan harus pintar,” kata mamanya Nelly.
“Tidak! Aku mau di rumah saja.” kata Nelly tetap tidak mau.
“Ya udah. Main aja sendirian di rumah. Ntar nyesel deh kamu," Kata Nita sambil berlalu.
Nelly melanjutkan bermain lagi seorang diri. Lama kelamaan dia merasa kesepian karena semua teman-teman bermainnya berangkat kesekolah. Cuma dia saja yang di rumah sendiri dan bermain sendiri. Nelly rindu akan teman-temannya.
Sepulang dari sekolah, teman-teman bermain Nelly pergi ke rumah Nelly dan melihat apa yang dilakukan Nelly di rumah tanpa teman bermain. teman-teman Nelly juga menceritakan pengalaman seru mereka selama berada di sekolahan.
 Semua bilang kalau sekolah itu asyik. Ada banyak teman baru, ada banyak mainan baru dan bermacam-macam. Mereka juga bisa bermain kucing-kucingan atau tik tak dengan lebih banyak kawan. Oh iya, katanya belajarnya juga menarik banget. Banyak krayon warna-warni, buku gambar dan buku mewarnai, perpustakaan kecil dan masih banyak lagi!
Di sekolahan, Bu Sinta, guru kelas mereka juga bertanya dengan cita-cita mereka. Bu Sinta bilang, anak perempuannya adalah seorang pramugari, seperti cita-cita Nelly.
Nelly jadi sedih mendengar itu semua. Dia menyesal tidak berangkat sekolah tadi.
"Kamu pengin jadi pramugari khan? Tadi aku tanya sama bu Sinta, kalau pengin jadi pramugari itu harus sekolah yang pinter, gak cuma main aja di rumah," kata Nita.
"Iya. Kata bu Sinta, kalau enggak sekolah bisa jadi anak bodoh. Dan anak bodoh enggak akan bisa berhasil mencapai cita-citanya," kata Joan.
Nelly tidak mau jadi anak bodoh. Nelly mau jadi pramugari. Seketika itu Nelly berlari mencari ibunya
“Ibu, apa jadinya kalau Nelly tidak sekolah?” tanya Nelly.
“Kalau Nelly tidak sekolah, Nelly akan menjadi anak bodoh dan akan selalu diejek sama teman-teman. Dan anak bodoh enggak akan bisa jadi preamugari,” jawab ibu.
“Apa nelly mau jadi seperti itu? Kalau Nelly ingin jadi anak pintar dan jadi pramgari seperti yang Nelly inginkan, Nelly harus sekolah,” kata ibunya.
“Tapi ibu, Nelly takuuut,” kata Nelly.
“Apa yang kamu takutkan, Nelly?” tanya ibu.
 “Kau dengar cerita teman-temanmu tadi? Apa mereka ketakutan di sekolahan? Tidak bukan? Pramugari itu seorang yang pemberani lho. Bayangkan aja, dia ada di pesawat terbang yang jauuuh tinggiii sekali di udara,” kata ibu.
“Okelah, kalau begitu Nelly besuk coba berangkat sekolah,” kata Nelly.
“Nelly ingin jadi anak pintar dan ingin jadi pramugari. Nelly akan coba untuk tidak takut,” kata Nelly lagi.
“Nah begitu dong anak ibu. Ya udah mulai besuk Nelly masuk sekolah ya. Nah sekarang main dulu gih sama temenmu, ntar ibu bawain kue dan sirup,” kata ibu
Dan semenjak itu Nelly berangkat sekolah. Dan tidak sekalipun dia bilang tidak mau berangkat sekolah lagi.
"Ternyata sekolah itu menyenangkan," batin Nelly.

Sunday, May 22, 2011

Bara Memudar, Asa Memercik

Ke Hong Kong! Tidak untuk melancong, tidak pula kuliah atau kunjungan bisnis apalagi kunjungan kenegaraan, melainkan untuk menjadi pembantu atau jongos bagi keluarga Cina yang berkecukupan untuk nge-jeng kami. Pagi masih basah ketika aku meninggalkan kampung halamanku menuju bandara Jakarta. Hanya aku sendiri, tanpa sesiapa yang mengantar, tidak pula dia, suamiku.
Aku mengenang perpisahan dengan ibu dan keluargaku. Ibu yang sewaktu aku kecil dulu kurasakan tak begitu mempedulikanku saat itu kulihat begitu tulusnya menemaniku sepanjang hari. Memandangku dengan tatapan yang kalau aku jabarkan mungkin akan menjadi sebuah cerita sedih yang menguras air mata. Tatapan seorang ibu yang mengandung kata maaf, iba, khawatir, sedih, pengharapan dan entah rasa apa lagi yang bercampur menjadi satu.
“Hati-hati ya nduk, segera kirim kabar sesampainya di sana ya,” katanya entah untuk yang keberapa kalinya padaku.
“Iya, iya nanti khan aku telpun mbok. Wes, jangan khawatir,” kataku menegaskan walau sebenarnya hatiku sendiri masih was-was.
“Maafkan aku kalau semuanya jadi begini,” imbuhnya.
Aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Mendengarnya bicara seperti itu mengingatkanku akan suamiku. Pernikahanku dnegannya yang adalah hasil dari bujukan emakku itu tak berjalan mulus walau dulu diawali dengan pesta pernikahan yang ebgitu mewah dan terlihat gebyar. Aku juga mengharapkan semua akan baik-baik saja. Aku berharap suamiku ini bisa menjadi pengobat lukaku yang cukup dalam akibat dari putusnya hubunganku dengan pacar pertamaku dulu. Aku juga mengharap dia bisa menjadi imam dalam keluarga serta seorang suami yang bertanggung jawab.
Tetapi kadang apa yang kita impikan dengan apa yang kita jalani tidak sama,bahkan jauh dari impian kita. Seperti apa yang aku alami. Suami yang kuharapkan bisa menjadi imam dalam keluarga,ternyata jauh sekali dari apa yang aku harapkan. Aku jalani hidup bersamanya dengan pertengkaran.
Berawal dari hari pertama setelah pernikahanu dengannya, suamiku sudah meminta dengan sedikit memakksa agar aku memboyong semua perabot rumah tangga yang sudah kumiliki jauh hari sebelum aku menikah dari hasil bekerja di Taiwan dan Singapura.
“Isi rumahmu diboyong aja ke rumahku?” katanya dengan santai.
Aku mendengar itu sampai terheran-heran.
“Kok bisa? Itu khan aku yang beli mas, udah dari dulu itu,” jawabku.
“Lho kamu khan istriku,” jawabnya ketus. Jawaban yang ini tentu saja memancing emosiku.
“Ga bisa gitu mas, itu bukan harta bersama,” jawabkku lagi.
“Nek kamu merasa jadi istriku, hartamu ya hartaku juga. Bawa semua kesini!” teriaknya.







“Yang dinamakan harta bersama itu harta yang setelah kita dapat setelah kita menikah. Lha tapi ini isi rumah jauh sebelum mas menikahi aku. Jadi maaf itu milikku sendiri. Lagian biarin aja di rumahku, khan ada ibu di sana.”
“Kamu mo nurut omonganku ga sih!” bentaknya.
“Ok. Boleh mas, boleh boyong semua isi rumah,asalkan kita sudah punya rumah sendiri, tapi ini lho masih numpang sama ibumu.”
Ah itu baru hari pertamaku dengannya. Hari selanjutnya juga tak jauh dari pertengkkaran-pertengaran. Dalam segala hal kami beda prinsip, beda persepsi dan itu semakin merumitkan posisiku sebagai istri sekaligus menantu di rumah mertuaku waktu itu.
Belum lama menikah kebutuhan sudah menumpuk. Banyak yang punya hajatan di kampungku, jadi aku harus mengeluarkan uang untuk menyumbang. Namun suamiku tidak pernah memberi uang untuk menyumbang. Jadi terpaksa aku harus mengeluarkan uangku sendiri. Bahkan uang belanja saja dia tidak jujur padaku. Kepadaku dia bilang gaji perminggunya amat sedikit sehingga aku hanya diberi uang belanja 20 ribu untuk satu Minggu, masyaallah… Mana cukup?
Suatu hari pula suamiku menyuruhku untuk mengganti sepeda motorku dengan merk baru, aku bingung. Bagaimana mungkin?
“Ganti Grand aja sepeda motornya. Kamu khan punya uang,” katanya.
“Ha? Aku khan tidak kerja, Aku dapat uang dari mana aku?” jawabku. Kesal sekali hatiku mendengar perkataan suamiku.
“Ga usah mungkir, pakek tuh tabunganmu. Khan tabunganmu masih banyak,”katanya lagi.
“Tabungan apa yang kamu maksudkan? Aku ini sudah tidak punya apa-apa lagi mas,” jawabku pilu. Seperti ini rasanya aku semakin tidak tahan aku dengannya. Jadi apa dia nikah denganku hanya karena berpikiran aku punya tabungana banyak saja? Apa dia pikir karena aku ex Singapura, ex Taiwan trus tabunganku bertumpuk-tumpuk? Masya Allah…
Dulu aku berharap sekali dia bisa mengobati luka hatiku akibat dari ditinggal pergi pacar pertamaku dulu, tapi ternyata dia malah membuat luka ini semakin dalam. Ah ataukah aku juga turut andil dalam membuat pernikahan yang salah ini? Ah, aku bingung.
Lelaki yang dulu aku sangat cintai mengingkari janji. Dia menikah dengan wanita lain dan kini dia sudah mempunyai 2 orang putri. Dia menetap di Cibinong dan beli perumahan di sana. Dulu aku nge-break contract demi dia. Harapanku dia akan segera melamarku dan menjadi suamiku.Ya memang dia bener-mener melamar, tapi bukan aku yang dia lamar melainkan orang lain. Hancur semua harapan yang lama aku impikan. Cita-citaku musnah semua, semua tinggal kenangan. Kenangan yang terlalu sakit untuk diingat.
Kucoba untuk selalu bersabar dengan apa yang telah menimpaku. Walau pahit kurasakan, namun aku tetap mencoba tersenyum di depan ibuku, saudaraku, tetanggaku dan semuanya. Ya, walaupun kemudian aku tersedu pilu dibawah bantal di dalam kamarku.





Dan gara-gara aku putus cinta itu juga aku harus menerima untuk dijodohkan. Emak yang dengan jelas mengatakan malu mempunyai anak gadis yang jadi prawan tua. Adat di desaku dan kepatuhanku pada ibuku itu begitu menyakitkan hasilnya. Mengapa budaya patriaki demikian erat membelenggu wanita? Mengapa ibu lebih rela menjodohkanku dengan orang yang jelas-jelas tak kucinta hanya karena takut aku jadi prawan tua? Dan mengapa pula aku tak mempunyai keberanian untuk berontak?
Genap 4 bulan aku hidup bersamanya, namun dia malah semakin parah saja. Di waktu aku bingung harus bagaimana, tiba-tiba teman setiaku menelponku,dan menewari kerja di Hong Kong lagi.
Singkat kata akhirnya aku berangkat juga ke negeri beton lagi. Dengan harapan suamiku itu bisa berubah untuk menjadi yang lebih baik dan dewasa. Tapi lagi-lagi harapan tak sesuai dengan kenyataan. ibuku cerita semua tentang kelakuannya yang semakin gila saja.
“Bu aku mau tanya gimana keadaan rumah dan gimana kabar suamiku? Apa dia tinggal di sini atau di rumah orang tuanya sendiri?” tanyaku pada ibu sewaktu aku menelponnya.
“Suamimu tinggal di rumah orang tuanya, tapi kadang kala juga datang ke sini. Nak ini ibu mau kasih tahu tentang suamimu, aku dengar dia sering bilang kalau dia mau minta ke kamu untuk dibelikan sepeda motor. Apa bener?” kata ibu
“Kok gitu? Aku bukan perempuan yang dengan mudah memanjakan lelaki bu? Aku kerja untuk menabung buat masa depan. Aku pikir suami kerja juga buat nabung, aku juga nabung gitu. Enggak trus buat beli motor lagi dan lagi. Buat apa?” kataku.
“Ya syukurlah kalau kamu punya penderian begitu.”kata ibuku.
“Ya harus begitu bu. Kalo dia bener-bener pengin ya suruh beli aja sendirilah,” kataku.
Bulan demi bulan kulalui di Hong Kong, komunikasiku dengan suami juga semakin amburadul. Bila aku menghubunginya selalu berakhir dengan dengan kemarahan di kedua belah pihak. Selalu begitu. Kepercayaanku pada suamiku punah sudah. Hal itu juga dirasakan oleh ibu, ibu juga tidak mempercayainya lagi. Tertama di saat suamiku mempunyai tabiat baru yaitu menjadi pemabuk. Pajak sepeda motor yang menjadi tanggungannya bahkan dibebankan kepada ibu karena dia lebih memberatkan untuk membeli minuman keras. Aku sakit hati dibuatnya.
“Enak benar dia. Dia yang pakai kok ibu yang bayar pajak sih?” kataku.
Daripada menanggung pikiran dan tidak tenang yang berimbas kek pekerjaanku juga maka tak lama kemudian aku putuskan untuk bercerai dengan dia. Semula aku mencoba untuk bicara baik-baik dengannya. Tiga kali aku mengirim surat padanya, namun tak satupun suratku dibalasnya. Malah ibuku bilang dia datang kerumah dan menuduh ini semua bujukan ibuku.





Aku mendengar itu semua langsung mencari pengacara untuk membantu menyelesaikan masalahku ini. Karena kufikir buang waktu saja membujuk dia. Sepertinya jalan perceraianku harus kutempuh dengan susah. Ya bagaimana tidak, sehabis sidang yang kedua pangacaraku mengirimkan pesan lewat sms.
“Mbak, tadi sidang berjalan lancar dan suami mbak juga hadir. Di sidang hari ini suami mbak mau bertanda tangan asal mbak mau membayar 20 juta.” Kata pengacaraku dalam smsnya.
“Pak, Ga bisa pak. Aku ga akan kasih. Kalo dia butuh uang segitu, suruh aja dia ngrampok di bank,” jawabkku ketus
“Lha mbak ihklasnya berapa?”
“Maaf pak, saya tidak akan membayar 1% pun.” jawabku mengotot tidak mau keluar uang buat lelaki mata duitan ini.
“Biar cepet selesai urusannya mbak kasih saja berapa gitu?”
“Tidak! Saya tidak akan memberinya uang,bapak ini pengacara harus pintar dong. Dia itu suami yang tidak bertanggung jawab. Kenapa saya harus memberi dia uang?” emosiku semakin meledak
Aku tak habis fikir ya,yang dia mau itu apa? Jadi suamiku tak pernah tanggung jawab, sekarang malah mau minta uang segala,emang dia fikir aku ini ibunya apa?.Jalan perceraiku cukup memakan waktu yang lama.Malah aku dengar dia sempat datang kerumah dan bilang ama ibu kalau dia minta ganti rugi. Aku mendengar itu semua ketawa saja. Memang aku sudah merusak barang dia atau gimana kok pakai acara ganti rugi? Ibuku yang ketakutan waktu itu. Tapi aku tetap dan terus bersikukuh bahwa aku tidak akan memberinya uang walau hanya serupiah sekalipun.
Dia tak terima atas kesaksian ibuku. Ibuku bilang sama bapak hakim ,bahwa ibu tidak mau punya menantu seorang pemabuk.
Perjuanganku untuk bercerai denganya cukup rumit. Karena selain suamiku yang berbelit, pengacaraku jga mempermainkanku. Dia sengaja mengulur waktu biar lama. Bahkan saat uang pembayaranku untuknya sudah diterimanya, namun berkas-berkas perceraianku tidak segera dimasukan ke pengadilan. Untung saja waktu aku suruh ibuku datang langsung kepengadilan ibuku menanyakan berkasku sudah masuk apa belum. Tiga bulan berkasku baru dimasukan ke pengadilan, ini juga yang bikin aku jengkel sama pengacaraku.
Tapi alhamdulillah setelah melewati masa-masa yang sulit, akhirnya pengadilan mengabulkan permintaanku untuk bercerai. Bahagia rasanya hati ini mendengar semua itu. Akhirnya aku bisa lepas dari belenggu rumah tanggaku yang memang tidak dilandasi rasa cinta dan kasih sayang. Terutama suamiku,dia menikahiku semata-mata karena aku disangka punya banyak tabungan.
Sekarang ini aku tinggal memikirkan masa depanku dan cita-citaku yang sempat berhenti di jalan.Aku akan meneruskan untuk mengejar cita-citaku untuk bisa buka rias pengantin. Ibarat sambil menyelam minum air. Ya, aku bekerja sambil mencari ilmu sepaya bermanfaat nantinya. Aku yakin di balik musibah yang aku alami pasti Allah sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik bagiku. Amin.

Tuesday, October 14, 2008

PESAN SAHABATKU

    Malam yg sunyi,angin tertiup sepoi-sepoi,dengan perlahan tapi pasti dan manja membelai rambutku yg terurai.tak ketinggalan hujanpun ikut mengguyur badanku yg lemas karna kecapean.

tanpa membuang waktu aku langsung memanjakan tubuhku di bawah guyuran shower.tubuh yg penuh denagn debu  segera aku basuh dengan body foam yg beraroma lavender.setelah selesai mandi lalu aku berbaring di tempat tidurku yg telah usang.

dalam lamunanku aku ingat kejadian tadi siang,yg tanpa sengaja aku ketemu mas ferdy suami dewi almarhum.dia meninggal 1 thn yg lalu karna sakit yg tak tertolongkan.aku jadi ingat kata-kata terakhir sahabatku sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

   "rika,jika aku nanti meninggal tolong aku titip anak dan suamiku."kata dia malam itu,sewaktu aku datang besuk dia.

  "dewi,kamu jangn mikir yg macam2,kamu pasti sembuh."jawabku sambil menghiburnya.

kini sudah setahun sejak dia meninggal aku tak pernah jumpa dengan mas ferdy.karna aku pindah kota.dan hari ini aku jumpa lagi dgn mas ferdy,dia masih seperti dulu,tampan dan gagah.dan rupanya dia masih sendiri.

     "bagaimana kabarmu rika?"                                                                            

     "alhamdulillah baik mas,mas sendiri bagaimana?

    "ya,,aku masih jomblo aja nich!jawabnya sambil tatapannya menerawang jauh.

   "rika,apakah kamu sudah berkeluarga?

aku menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaannya.

     "blm mas,aku masih sendiri.

     "rika,apakah kamu ingat pesan dewi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya?

aku terdiam sejenak,kenapa mas ferdy tanya tentang itu padaku.

    "ya aku masih ingat ,emang kenapa?

     "asal km tahu rika,akhir-akhir ini dewi selalu datang di mimpiku.di dlm mimipi dia menyuruh aku mencarimu untuk aku jadikan istri dan ibu dari anakku.dulu semenjak dia meninggal ,aku tak punya keinginana untuk nikah lagi,bagiku dia yg terakhir.tapi dulu sebelum dia meninggal telah berpesan padaku ,untuk mencari gantinya.

     "kenapa mas dak cepat cari gantinya.?

     "bukan aku tak mencari,tapi blm ktm.tapi syukur alhamdulillah setelah sekian lama dlm pencarianku ,akhirnya aku bisa ketemu sama kamu.

     "lho apa hubunganny adengan saya mas?

      "karna dewi hanya ingin aku nikahi kamu untuk aku jadikan istri dan ibu bagi anakku.

      "sekarang dah bertemu dan aku tak mau buang waktu,dengan kerendahan hati aku meminta,sudikah kamu menikah denganku rika?

aku terdiam membisu,tak tahu aku harus menjawab apa?jujur aku sendiri juga telah di pesan dgn almarhumah yg sama.

      "mas,,,,,,,apa aku pantas bersanding dgnmu dan apakah anakmu mau menerimaku sebagai ibunya?

     "rika,kenapa kamu berkata begitu?aku uadh mencarimu kesana kemari.aku capek hidup sendiri terus rika,please.....

     "beri waktu aku tuk berfikir mas.;

     "baiklah rika,aku akan menunggu jawaban darimu,

      "malam udah semakin larut aku harus segera pulang.

      "dimana kamu tinggal?biar aku antar"

     "tak usah mas,aku pulang sendiri saja,selamat mlm

segera aku naik angkutan menuju pulang ke kost.

tak terasa uadh pukul 1 malam.mata ini sudah tak bersahabat.segera aku matikan lampu dan tidur.

waktu terus berlalu,tak terasa sudah satu minggu lamanya.aku blm kasih jawaban pada mas  ferdy.dan dlm satu minggu aku terus lakukan sholat istikharoh.dan hatiku mantap sudah untuk menerima pinangan dari mas ferdy.tanpa membuang waktu aku lalu telpon dia dan kasih jawaban bahwa aku bersedian jadi istrinya.kamipun melangsungkan pernikahan yg sederhana.kini hidupku bahagia bersama kedua anaku

 

HATI YABG TERGORES

                         Bulan bersinar dengan indahnya menghiasi malam minggu menambah hangat suasana malam.malam yg begitu indah untuk melepas kerinduan pada sepasang kekasih,di luar sana banyak muda-mudi bergembira ria.yang cwek sejak sore sudah dandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan yg arjuna,begitupun dgn sang arjuna.ya malam ini mereka bagaikan romeo dan juli

     Tapi tdk untuk wanda,sudah beberapa bln ini,bagi wanda hari-hari terasa sepi,sunyi.dia akan menghabiskan malam minggunya dengan duduk di teras dan air mata yg selalu menemaninya.seperti biasa malam ini wanda duduk di teras,termenung.dia ingat selalu almarhum kekasihnya tercinta yg 3 bln lalu meninggal akibat kecelakaan dlm perjalanan pulang dr luar kota.

      Pada hari itu Rio dan keluarga akan datang ke rumah Wanda untuk melamar dan menentukan haripernikahan.tak terbayang betapa bahagianya wanda kerna tak lama lagi akan menyandang Nyonya Rio.Wanda pada hari itu berdandan cantik sekali untuk menyambut calon mertuanya dan sang pujaan hati,sejak pagi dia sibuk di dapur membantu mamanya untuk membuat kue.

         Jam sudah menunjukan pukul 4 sore,terdengar deru suara mobil masuk halaman rumahnya,dengan cepat Wanda keluar untuk melihat siapa yg datang,ternyata orang tua Rio yg datang sedangkan Rio masih dlm perjalan.karna Rio dari luar kota langsung datang kerumah Wanda.
        "assalamu'alaikum" orang tua Rio memberi salam
         "wa'alaikum salam,apa kabar Ma,Pa? tanya Wanda
         "alhamdulillah baik,lho Mama,Papa di mana? kok sepi?
         "ada Ma,tunggu Wanda panggilkan,Mama dan Papa silahkan duduk dulu,biar Wanda panggilkan.sambil berlalu dari hadapan mertuanya lalu segera menuju dapur untuk kasih tahu kalau keluarga Rio dah datang.tak lama kemudian orang tua Wanda keluar untuk menemui Pak Suwandi dan istrinya.
          "eh Pak Suwandi dan Ibu Nurmala,maaf lama menunggunya."
          "oh tidak apa-apa kok ,

      sementara mereka berbincang tentang hari pernikanhan,Wanda mencoba menghubungi Rio lewat telpon genggamnya.
         "hallo Rio,km dah sampai mana?"
         "bentar sayang,nanti juga sampai,dah dak sabar ya."
          "ya udah hati-hati  ya sayang"
          "iya sayang,tunggu aku ya,muachhh,"
Setelah menutup telpon Wandapun ikut bergabung sama mereka,dan obrolanpun semakin hangat dan tak terasa jam menunjukan pukul 5 lewat.dan Rio yg di tunggu-tunggupun tak muncul.hati Wanda gelisah dari tapi mondar-mandir keluar masuk sambil bentar-betar lihat jam di dinding.
         DI dalam kegelisahan Wanda terdengar bunyi hp milik orang tua Rio.
           
          "hallo selamat sore"jawab Pak Hasan
          "sore,apa benar Bapak ini Pak Hasan orang tua saudara Rio?
           "ya,benar saya Papanya,ada apa ya?
           "gini Pak Hasan.anak bapak mengalami kecelakan dan saat ini di larikan ke Rumah Sakit Islam.
           "oh ya terima kasih saya dan keluarga akan segera datang"
Tanpa menberi tahu apa yg terjadi Pak Hasan lalu mengajak semua pergi ke Rumah Sakit.dalam perjalan Pak Hasan memberi tahu kl telpon td dari polisi yg meberitahukan kl Rio mengalami kecelakaan.bagai di sambar petir Wanda mendengar berita itu dan langsung meneteskan iar mata.

 sempainya di Rumah Sakit mereka lalu bergegas menemui Dokter
      "Dokter bagaiamana keadaan anak saya?
       "Bapak orang tuanya Rio ya?
       "iya"
        "kami akan berusaha menbantu,"jawab Dokter lalu berlalu pergi keruang ICU dimana Rio di rawat.setengah jam kemudian Dokterpun keluar
       "Pak yg sabar ya,rupanya Tuhan berkehendak lain,kami tidak bisa berbuta banyak."
Wanda yg mendengar bahwa kekasih hatinya telah tiada langsung berlari menuju ruangan di mana Rio terbaring tak bernyawa.

       "Rio,jangan tinggalkan aku"teriak Wanda
       "Rio bangun Rio.ayo bangun"
       "kenapa km diam Rio,kenapa......?tangis Wanda karna tak tahan menerima kepergian kekasihnya lalu Wandapun pingsan.
hingga saat ini semenjak kepergian Rio 3  bln yg lalu,Wanda selalu mengurung diri,dan tiap malam minggu tiba dia akan duduk di luar,termenung dan larut dalam kenangan masa lalu.malam minggu selalu dia habiskan dengan air mata dan kenangan manis.entah kapan hatinya yg tergores akan pulih kembali                                                                                                                                          

Saturday, October 11, 2008

HATI YANG TERGORES

                         Bulan bersinar dengan indahnya menghiasi malam minggu menambah hangat suasana malam.malam yg begitu indah untuk melepas kerinduan pada sepasang kekasih,di luar sana banyak muda-mudi bergembira ria.yang cwek sejak sore sudah dandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan yg arjuna,begitupun dgn sang arjuna.ya malam ini mereka bagaikan romeo dan juli

     Tapi tdk untuk wanda,sudah beberapa bln ini,bagi wanda hari-hari terasa sepi,sunyi.dia akan menghabiskan malam minggunya dengan duduk di teras dan air mata yg selalu menemaninya.seperti biasa malam ini wanda duduk di teras,termenung.dia ingat selalu almarhum kekasihnya tercinta yg 3 bln lalu meninggal akibat kecelakaan dlm perjalanan pulang dr luar kota.

      Pada hari itu Rio dan keluarga akan datang ke rumah Wanda untuk melamar dan menentukan haripernikahan.tak terbayang betapa bahagianya wanda kerna tak lama lagi akan menyandang Nyonya Rio.Wanda pada hari itu berdandan cantik sekali untuk menyambut calon mertuanya dan sang pujaan hati,sejak pagi dia sibuk di dapur membantu mamanya untuk membuat kue.

         Jam sudah menunjukan pukul 4 sore,terdengar deru suara mobil masuk halaman rumahnya,dengan cepat Wanda keluar untuk melihat siapa yg datang,ternyata orang tua Rio yg datang sedangkan Rio masih dlm perjalan.karna Rio dari luar kota langsung datang kerumah Wanda.
        "assalamu'alaikum" orang tua Rio memberi salam
         "wa'alaikum salam,apa kabar Ma,Pa? tanya Wanda
         "alhamdulillah baik,lho Mama,Papa di mana? kok sepi?
         "ada Ma,tunggu Wanda panggilkan,Mama dan Papa silahkan duduk dulu,biar Wanda panggilkan.sambil berlalu dari hadapan mertuanya lalu segera menuju dapur untuk kasih tahu kalau keluarga Rio dah datang.tak lama kemudian orang tua Wanda keluar untuk menemui Pak Suwandi dan istrinya.
          "eh Pak Suwandi dan Ibu Nurmala,maaf lama menunggunya."
          "oh tidak apa-apa kok ,

      sementara mereka berbincang tentang hari pernikanhan,Wanda mencoba menghubungi Rio lewat telpon genggamnya.
         "hallo Rio,km dah sampai mana?"
         "bentar sayang,nanti juga sampai,dah dak sabar ya."
          "ya udah hati-hati  ya sayang"
          "iya sayang,tunggu aku ya,muachhh,"
Setelah menutup telpon Wandapun ikut bergabung sama mereka,dan obrolanpun semakin hangat dan tak terasa jam menunjukan pukul 5 lewat.dan Rio yg di tunggu-tunggupun tak muncul.hati Wanda gelisah dari tapi mondar-mandir keluar masuk sambil bentar-betar lihat jam di dinding.
         DI dalam kegelisahan Wanda terdengar bunyi hp milik orang tua Rio.
           
          "hallo selamat sore"jawab Pak Hasan
          "sore,apa benar Bapak ini Pak Hasan orang tua saudara Rio?
           "ya,benar saya Papanya,ada apa ya?
           "gini Pak Hasan.anak bapak mengalami kecelakan dan saat ini di larikan ke Rumah Sakit Islam.
           "oh ya terima kasih saya dan keluarga akan segera datang"
Tanpa menberi tahu apa yg terjadi Pak Hasan lalu mengajak semua pergi ke Rumah Sakit.dalam perjalan Pak Hasan memberi tahu kl telpon td dari polisi yg meberitahukan kl Rio mengalami kecelakaan.bagai di sambar petir Wanda mendengar berita itu dan langsung meneteskan iar mata.

 sempainya di Rumah Sakit mereka lalu bergegas menemui Dokter
      "Dokter bagaiamana keadaan anak saya?
       "Bapak orang tuanya Rio ya?
       "iya"
        "kami akan berusaha menbantu,"jawab Dokter lalu berlalu pergi keruang ICU dimana Rio di rawat.setengah jam kemudian Dokterpun keluar
       "Pak yg sabar ya,rupanya Tuhan berkehendak lain,kami tidak bisa berbuta banyak."
Wanda yg mendengar bahwa kekasih hatinya telah tiada langsung berlari menuju ruangan di mana Rio terbaring tak bernyawa.

       "Rio,jangan tinggalkan aku"teriak Wanda
       "Rio bangun Rio.ayo bangun"
       "kenapa km diam Rio,kenapa......?tangis Wanda karna tak tahan menerima kepergian kekasihnya lalu Wandapun pingsan.
hingga saat ini semenjak kepergian Rio 3  bln yg lalu,Wanda selalu mengurung diri,dan tiap malam minggu tiba dia akan duduk di luar,termenung dan larut dalam kenangan masa lalu.malam minggu selalu dia habiskan dengan air mata dan kenangan manis.entah kapan hatinya yg tergores akan pulih kembali                                                                 

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes